Rapat kordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Budi Utari,AP didampingi Asisten II Drs.H.M Akhir Harahap, Wakil Kepala Bank Indonesia, dan sejumlah perwakilan dari BPS, Bulog, Sub Divre II Perum Bulog, Pertamina, serta diikuti dari Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Perijinan dan Penanaman Modal, Dinas Perhubungan serta bagian Perekonomian, Bagian Humas dan Protokoler Kota Pematangsiantar.
Pada rakor di Ruang Rapat Bank Indonesia Kota Pematangsiantar Lantai III tersebut, Sekretaris Daerah Budi Utari,AP menjelaskan bahwa inflasi menjadi barometer agar dapat senantiasa menahan stabilitas ekonomi dan pangan serta menjaga komitmen Pemerintah Kota Pematangsiantar yang sudah selayaknya hadir diseluruh kehidupan masyarakat.
“Ketika mengalami deflasi bukan berarti daya beli masyarakat rendah, tetapi insyaallah manajemen pengelolaannya bagus,” ungkap Budi Utari menanggapi deflasi yang terjadi di Kota Pematangsiantar.
Berkaitan dengan hal tersebut Walikota Pematangsiantar melalui Sekda meminta kepada TPID kota pematangsiantar agar dapat mempertahankan kinerja serta dapat meningkatkan fungsinya, dan dapat bekerja secara maksimal untuk dapat mendorong peningkatan kapasitas perekonomian kita, serta peningkatan komunikasi dan sinergi antar Daerah.
Pada kesempatan tersebut Sekretaris Daerah Budi Utari,AP juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh Tim TPID kota pematangsiantar, dimana TPID kota pematangsiantar mendapat penghargaan sebagai TPID terbaik se-propinsi sumatera utara yang telah diterima penghargaannya pada pertemuan rapat koordinasi TPID se-sumatera utara pada tanggal 26 nopember 2018. “Keberhasilan ini adalah keberhasilan kita semua untuk menjaga inflasi di kota pematangsiantar,”sebutnya.
Sebelumnya Asisten II Drs.H.M Akhir Harahap yang membacakan sambutan tertulis Walikota Pematangsiantar Hefriansyah,SE.MM menjelaskan. Seperti yang sudah diketahui, bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) kota pematangsiantar pada periode oktober 2018 mencatat inflasi sebesar 0,80% (MTM),dengan realisasi IHK tersebut, inflasi tahun kalender kota pematangsiantar sebesar 1,77% (YTD) dan secara tahunan inf lase sebesar 2,57% (YOY).
Sedangkan kondisi inflasi provinsi sumatera utara inflasi sebesar 1,31 % (MTM) atau 2,73% (YOY), sementara inflasi nasional terkendali pada level 0,28% (MTM) ATAU 3,16% (YOY).
Sedangkan inflasi Kota pematangsiantar pada periode november di perkirakan tetap terkendali pada sasaran inflasi nasional 3,5+1%, adapaun resiko inflasi di perkirakan masih berasal dari kenaikan harga cabai merah, seiring dengan menurunnya pasokan dari sentra produksi di kawasan sumatera utara.
“Depresiasi rupiah juga berisiko yang mendorong kenaikan harga input produksi dan komoditas impor, sehingga berpotensi mendorong laju inflasi. Harga emas perhiasan dan kenaikan harga Pertamax Dex Series pada tanggal 10 oktober 2018 diperkirakan memberikan dampak inflasi pada bulan november ini, tutur Sekda Budi Utari.
Pemerintah kota pematangsiantar dalam hal pengendalian inflasi daerah tetep menerapkan 4K yaitu Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, Komunikasi Ekspektasi. Dan dalam rangka menjelang hari natal dan tahun baru ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan yaitu kita harus tetep menjaga ketersediaan stock pasokan pangan, dengan tetep melakukan monitoring dan pengawasan di pasar tradisional, kilang padi gudang bulog, dan memastikan tidak adanya penimbunan barang di distributor sembako, melakukan monitoring bersama dengan satgas pangan, tetep melakukan pengawasan dalam penyaluran gas LPG 3 kg bersubsidi agar tidak mengalami kelangkaan gas lpg 3 kg dalam menjelang natal dan tahun baru.
Selanjutnya acara tersebut dilanjutkan dengan pemaparan dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Pematangsiantar tentang Inflasi perbulanya pada tahun 2018, yang disampaikan oleh pihak Bank Indonesia Kota Pematangsiantar, BPS Pematangsiantar, Sub Divre II Perum Bulog serta Pertamina.(rel/vay)




Discussion about this post