Siswa SMA di Pematangsiantar diharapkan sudah bisa melakukan siap siaga bencana kapan dan di mana saja. Hal itu terungkap dalam acara Pengembangan Budaya Sadar Bencana Kota Pematangsiantar tahun 2019, di Hotel Sapadia, Kamis (17/10), yang diikuti ratusan siswa SMA.
Kegiatan dengan thema ‘Kesiapsiagaan Siswa dalam Mewujudkan Pengurangan Resiko Bencana’ itu bertujuan menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan, menumbuhkembangkan nilai dan kepedulian terhadap resiko bencana, mengembangkan pemahaman tentang resiko bencana, pemahaman tentang sosial, fisik, serta perilaku, dan motivasi.
Walikota Pematangsiantar H Hefriansyah SE MM dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Walikota Togar Sitorus SE MM mengatakan, sejak disahkannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada tanggal 26 April 2007, terjadi perubahan paradigma penanggulangan bencana dari perspektif responsif ke preventif.
“Perubahan paradigma tersebut harus diikuti dengan perubahan pola prilaku kita. Di mana kita perlu berperan aktif dari berbagai elemen untuk menjaga keseimbangan alam dengan memperhatikan aspek kelestariannya serta mempungai prilaku yang aman bencana (safety culture),” katanya
Sikap kesiapsiagaan atau kewaspadaan dini di semua lingkungan, katanya, harus dimunculkan dan ditingkatkan untuk mengantisipasi kejadian bencana. Setidaknya dapat menanamkan kesiapan mental pada diri masyarakat yang menghadapinya.
“Jika kita melihat dan mengikuti situasi/ kondisi yang terjadi saat ini, semakin seringnya kejadian bencana alam di wilayah Indonesia, khususnya di daerah-daerah, yang mengakibatkan kerugian yang sangat besar, baik korban jiwa maupun harta benda,” terangnya.
Dilanjutkannya, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian gempa tsunami Aceh Desember 2004 menimbulkan korban jiwa 180 ribu dengan kerugian materi Rp45 triliun, gempa Lombok Juli 2018, gempa dan tsunami Palu/Donggala September 2018,dan letusan Gunung Sinabung tahun 2010.
Salah satu program pemerintah dalam penanggulangan bencana, katanya lagi, adalah program penguatan kelembagaan. Hal ini berarti, melalui pendidikan dan latihan simulasi diharapkan upaya pengurangan resiko bencana dapat mencapai sasaran yang lebih luas dan dapat diperkenalkan secara dini kepada seluruh peserta didik.
“Melalui kegiatan pengembangan budaya sadar bencana ini, saya berharap terutama kepada para peserta didik sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia di kota tercinta ini, agar kiranya dapat meningkatkan pengetahuan dan kepekaan tentang penanggulangan bencana, terutama melakukan tindakan pencegahan dan kesiapsiagaan di lingkungan masyarakat sekolah,” jelasnya.
Pemerintah daerah yakin, ke depannya kegiatan ini akan membentuk kerangka atau pilar kerja global sekolah aman bencana.
“Untuk itu, saya meminta kepada jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pematangsiantar, agar melakukan sosialisasi dan pelatihan tanggap bencana serta rutin, agar ke depannya para peserta bisa dijadikan agen/tenaga sukarelawan dalam penanggulangan bencana di Pematangsiantar untuk Menuju Siantar Mantap, Maju, dan Jaya,” jelasnya.
Narasumber dalam acada tersebut yakni Tringani Barus SE dari BPBD Sumatera Utara, Drs Kepler Silabani MHum yang merupakan Direktur Centre for Disaster Risk Management and Community Development Studies Universitas HKBP Nommensen, serta Octo Albert Tambunan dari Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Parapat Danau Toba. Acara juga dihadiri para kepala sekolah se-Kota Pematangsiantar, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan tamu undangan. (*)




Discussion about this post