Dinginnya malam di Bukit Singgolom, Tampahan, Tobasa menjadi hangat di antara keramaian penonton yang menyaksikan penampilan puluhan generasi muda kreatif di panggung Toba Caldera World Music Festival (TCWMF) 2019.
Dengan penampilan yang eksentrik,puluhan kawula muda yang tergabung dalam Komunal Primitif Percussion unjuk kebolehan di bidang seni yang mereka geluti.
Satu daya tarik bagi wisatawan dan pengunjung di kawasan Danau Toba, (TCWMF) 2019, sebuah even berkelas internasional yang menghadirkan suguhan berkelas tentunya.

Komunal Primitif Percussion tampil dengan riasan tak biasa. Wajah mereka dibalut riasan warna hitam dan putih. Bak prajurit perang suku dayak. Penampil laki-laki bertelanjang dada dan hanya berbalut ulos. Menunjukkan identitas, bahwa mereka berasal dari Sumatera Utara.
Belum unjuk kebolehan, riasan mereka sudah membuat pengunjung berdecak kagum. Sepanjang penampilan, penonton mengarahkan telepon genggam untuk merekam aksi kelompok yang dibentuk 2008 lalu.
“Ini untuk meningkatkan kepercayaan diri . Kalau makna, biar penonton yang menilainya. Kalau kita kan namanya primitif. Itu artinya sederhana,” ujar Sintong Brivo Markus Pasaribu, ujar Ketua Grup Komunal Primitif Percussion usai tampil.

Penampilan Komunal Primitif Percussion yang menurunkan tiga generasinya Sabtu(15/6) tersebut pun menjadi klimaks TCWMF 2019 di hari kedua. Dengan musik tetabuhannya Komunal Primitif yang dibentuk Fredi Purba itu, sudah menyabet berbagai prestasi.
Mulai dari Tabuik Festival di Padang, Festival Musik Nusantara dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan masih banyak lagi.
Tak ada alat musik elektrik yang mereka mainkan. sesuai nama dan konsep yang mereka usung, adalah perkusi. Namun rampak-rampak perkusi yang dimainkan mereka begitu apik.
Sejumlah lagu etnis dimainkan. Selayang pandang, Sinanggar tullo dan sejumlah lagu lainnya menggebrak panggung. Penonton pun ikut bergoyang mengikuti irama perkusi.
Sejumlah alat musik perkusi yang mereka bawa antara lain, Dol Minang, Garantung Batak, Taganing, Jinbe, Hihat Cymbals dan lainnya. Paduan suaranya pun menambah semangat penonton yang mendengarnya.
Sintong menjelaskan, dalam pertunjukannya mereka kerap kali menggabungkan rampak atau bunyi tetabuhan dari berbagai kebudayaan nusantara dan luar negeri. Mereka juga sudah berlatih intensif selama dua bulan terakhir.
“Itu adalah rampak–rampak dari nusantara. Seperti Sumatera, Jawa dan lainnya. Dan Rampak-rampak yang ada di dunia. Seperti Afrika, Irlandia dan lainnya. Kami menggarap rampak-rampak ini sesuai dengan tema musik dunia yang diusung TCWMF kali ini,” ujarnya.
Komunal Primitif ingin TCWMF jadi agenda rutin tahunan TCWMF yang kali ini digawangi Irwansyah Harahap, menjadi ajang silang saling kebudayaan musik di dunia.




Discussion about this post