Komitmen menjaga kerukunan di tengah keberagaman Kota Pematangsiantar mendapat apresiasi. Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, SH, MKn menerima penghargaan sebagai Tokoh Toleransi dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pematangsiantar.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara Silaturahmi Bersama Tokoh Lintas Agama Kota Pematangsiantar yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota, Jalan MH Sitorus, Kelurahan Teladan, Kecamatan Siantar Barat, Kamis (24/9/2026). Wesly hadir didampingi sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Apresiasi FKUB tersebut diberikan di tengah capaian Kota Pematangsiantar dalam Indeks Kota Toleran (IKT) yang diterbitkan SETARA Institute. Dalam IKT 2024, Pematangsiantar berada di peringkat kelima dari 94 kota yang dinilai. Pada IKT 2025, posisi tersebut meningkat menjadi peringkat keempat dengan skor 6,084.
Laporan SETARA Institute menjelaskan bahwa IKT merupakan pengukuran terhadap kinerja kota dalam mengelola keberagaman, toleransi, dan inklusi sosial, dengan sejumlah indikator yang mencakup regulasi, tindakan pemerintah, kondisi sosial, serta demografi keagamaan.
Wesly: Kerukunan Bukan Sekadar Slogan
Dalam sambutannya, Wesly menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para tokoh agama serta tokoh masyarakat yang selama ini turut menjaga kerukunan di Kota Pematangsiantar.
Menurutnya, silaturahmi lintas agama memiliki arti penting dalam memperkuat kebersamaan. Kerukunan umat beragama, kata Wesly, bukan sekadar slogan, melainkan kekuatan sosial yang perlu dirawat secara bersama-sama.
“Pematangsiantar adalah kota yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang masyarakat. Perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk saling menjauh, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan,” ujar Wesly.
Sejalan dengan tema kegiatan, “Kerukunan Itu Indah Walaupun Kita Berbeda Agama Tetapi Tetap Rukun, dan Damai untuk Membangun Kota Pematangsiantar,” Wesly mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan memperkuat toleransi.
Ia menegaskan, Pematangsiantar diharapkan menjadi kota tempat seluruh masyarakat, tanpa memandang agama, suku, etnis, maupun latar belakang, dapat hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, serta memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan.
“Karena itu, prestasi Pematangsiantar sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia harus kita pertahankan dan tingkatkan. Mari kita jadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai perbedaan yang memisahkan. Sehingga Pematangsiantar semakin rukun, inklusif, dan nyaman bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Wesly juga berharap kebersamaan yang dibangun melalui pertemuan lintas agama dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkokoh kerukunan di Kota Pematangsiantar.
DPRD: Kerukunan Menjadi Fondasi Pembangunan
Ketua DPRD Kota Pematangsiantar Timbul Marganda Lingga, SH turut menyampaikan ucapan selamat atas penghargaan yang diterima Wesly dari FKUB.
Menurut Timbul, kerukunan umat beragama merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus menjadi salah satu fondasi pembangunan.
“Kota Pematangsiantar telah membuktikannya. Di tengah keberagaman suku, budaya, dan keyakinan, kita hidup saling berdampingan, saling menghormati, dan saling menguatkan,” tuturnya.
Timbul menyampaikan, DPRD Kota Pematangsiantar berkomitmen menjadikan kerukunan dan toleransi sebagai salah satu landasan dalam menjalankan tugas dan fungsi kelembagaan.
“Kami akan memastikan setiap warga merasa dihargai, dilindungi, dan menjadi bagian dari kemajuan kota ini tanpa terkecuali. Mari kita jaga kebanggaan ini, jaga kedamaian ini, dan terus melangkah bersama menuju masa depan yang cerah,” ajaknya.
Kapolres: Keamanan Dibangun Bersama
Kapolres Pematangsiantar AKBP Dhana Noer Kurniawan, SIK, MM juga mengucapkan selamat kepada Wesly atas penghargaan Tokoh Toleransi serta atas keikutsertaannya dalam pendidikan kepemimpinan di Lemhannas RI.
Sebagai Kapolres yang baru bertugas di Kota Pematangsiantar, Dhana memperkenalkan diri sekaligus memohon dukungan, arahan, dan bimbingan dari para tokoh agama serta tokoh masyarakat.
“Kami berusaha untuk menciptakan kenyamanan dan ketertiban yang ada di Kota Pematangsiantar. Untuk itu, mohon arahan dan bimbingan, terutama dari Bapak Wali Kota dan unsur Forkopimda di Kota Pematangsiantar,” ujarnya.
Dhana menegaskan, upaya menjaga keamanan dan ketertiban membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kalau tanpa bantuan dari Bapak/Ibu, semua tokoh-tokoh yang ada di sini, kami juga bukan apa-apa. Ingatkan kami, beritahu kami untuk sama-sama menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan tertib di kota yang kita cintai ini,” sambungnya.
FKUB: Kebersamaan Harus Menjadi Kekuatan Kota
Sementara itu, Ketua FKUB Kota Pematangsiantar Drs HM Ali Lubis mengajak seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan unsur Forkopimda untuk terus menanamkan semangat kebersamaan.
Ali mengingatkan bahwa berbagai konflik sosial yang pernah terjadi di sejumlah daerah menjadi pembelajaran penting tentang perlunya menjaga komunikasi dan kerukunan sejak dini.
Menurutnya, situasi di Pematangsiantar menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola melalui kebersamaan dan komunikasi lintas kelompok.
“Bahkan saat terjadi kekurangharmonisan di Tanjungbalai, orang memperkirakan hal yang sama muncul di Pematangsiantar. Tetapi apa yang dibayangkan, tidak terjadi,” tandasnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan Kodim 0207/Simalungun, perwakilan Kejaksaan Negeri Pematangsiantar, perwakilan Kantor Kementerian Agama Pematangsiantar, pimpinan OPD Pemko Pematangsiantar, pimpinan organisasi keagamaan, tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu, serta para camat.
Di tengah capaian Pematangsiantar dalam IKT, pertemuan lintas agama tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarelemen masyarakat. Capaian peringkat IKT sendiri merupakan hasil pengukuran SETARA Institute terhadap tata kelola keberagaman, toleransi, dan inklusi sosial di tingkat kota.

