Impian pasangan suami istri (pasutri) Efriando Limbong (27) dan Safrita Sinaga (27) menggendong bayi pertama mereka, pupus. Pasalnya, janin yang mereka jaga-jaga keburu meninggal dalam kandungan Safrita.
Selasa (6/8), Efriando warga Desa Sari Marrihit, Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara membeberkan kejadian yang dialami istri dan bayinya. Diterangkannya, Selasa (23/7) lalu, istrinya mulai mengalami kontraksi hendak partus (melahirkan). Sekitar pukul 03.00 WIB ia menelepon bidan desa, Sariati Sitinjak.
Dini hari itu juga, dengan diantar saudara laki-laki Safrita, Reinhard Sinaga, Efriando membawa istrinya ke rumah bidan. Di rumah bidan, Safrita menjalani sejumlah pemeriksaan. Lalu, Safrita dianjurkan tidur, dan bangun sekira pukul 06.00 WIB.
“Selama tiga jam sampai jam enam, kami menunggui istri saya di rumah bidan,” kata Efriando.
Namun hingga pukul 06.00 WIB, Safrita tidak kunjung melahirkan. Bidan pun meminta mereka membawa Safrita pulang. Bidan juga berpesan, agar Safrita datang saja ke Puskesmas Limbong pukul 09.00 WIB.
Pukul 09.00 WIB, mereka membawa Safrita ke Puskesmas. Setelah diperiksa, diketahui Safrita sudah ‘bukaan 7-8’.
Waktu berjalan dan tidak ada tindakan medis terhadap Safrita. Sekitar pukul 12.00 WIB, barulah Safrita kembali diperiksa. Saat itu dinyatakan Safrita sudah ‘bukaan 9’.
Lantas Safrita disuruh berjalan dan bergerak untuk mempercepat bukaan selanjutnya dan menjalani proses persalinan.
“Dari jam 12 sampai jam 6 sore saya terus bergerak. Setelah enam jam, saya nggak kuat lagi, lemas. Saya pun bilang nggak sanggup pagi,” aku Safrita.
Saat itu, sambung Safrita, sakit di perutnya sudah tak tertahankan. Namun tak kunjung melahirkan. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Safrita meminta agar ia segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) dr Hadrianus Sinaga di Pangururan. Hanya saja, bidan tak kunjung merujuknya.
“Bahkan ada lebih dari dua kali saya minta dirujuk ke RS karena nggak tahan lagi,” katanya.
Ibu kandung Safrita yang juga mertua Eftiando, Dormauli Malau (52) membenarkan yang terjadi dengan putri kesayangannya itu. Sebab ia memang terus mendampingi Safrita di Puskesmas.
“Dua hali huppangido (dua kali kuminta) biar segera dirujuk,” ujar Dormauli.
Namun bidan menolak permintaannya. Alasannya, kalau untuk persalinan secara normal, tidak perlu ke rumah sakit. Cukup di Puskesmas.
“Pailahon do hamu Inanguda. Boi do i son normal. I san pe normal. I son pe boi do normal. Bah, molo lao hamu, ba dang dohot bahu mangihuthon hamu (Kalian memalukan saja. Kalau di sana, RSUD Pangururan bisa persalinan normal, di sini juga bisa normal,” kata Dormauli menirukan ucapan bidan saat itu.
Dormauli bingung. Apalagi Safrita terus mengerang kesakitan. Saat itu, Dormauli hanya mampu menenangkan Safrita dan memintanya menahan sakit.
Sekitar pukul 21.00 WIB, Safrita pendarahan. Saat diperiksa, masih ‘bukaan 9’.
Setelah Safrita pendarahan, sambung Dormauli, barulah ia dirujuk ke RSU dr Hadrianus Sinaga di Pangururan.
“Setelah dilihat darah, barulah anak saya dirujuk ke Pangururan. Kami bilang, kalau memang itu yang terbaik, ya kami bawa. Lalu Safrita kami bawa pakai mobil ambulans ke Pangururan,” jelasnya.
Safrita menambahkan, saat di Puskesmas sebenarnya ada beberapa bidan yang memeriksanya. Terakhir diperiksa, itulah yang kemudian terjadi pendarahan.
“Waktu perutku dipegang, aku dipaksa mengejan. Terus, keluarlah darah. Aku juga bilang kalau bayiku nggak bergerak lagi. Tapi katanya, berdasarkan alat mereka, kondisi bayiku bagus,” sebutnya.
Di RSUD dr Hadrianus Sinaga, Safrita langsung ditangani dr Tonny Simarmata SpOG,. Setelah diperiksa, dokter Safrita ‘bukaan 9’. Terkait pendarahan, menurut dokter akibat luka di jalan rahim.
Saat itu juga, kata Efriando, sesuai hasil pemeriksaan, dokter menyatakan denyut jantung janin tidak ada lagi, tehitung dua jam sebelum mereka tiba di RSU. Karena Safrita tiba di RSU antara pukul 21.00-22.00 WIB, jadi diperkirakan bayi sudah meninggal di dalam kandungan sekitar pukul 19.00 WIB, saat Safrita masih berada di Puskesmas.
“Bayinya tak terselamatkan lagi. Sudah dua jam meninggal,” kata dr Tonny malam itu.
Alangkah sedihnya Safrita dan keluarganya saat itu. Apalagi, sejak sore pasien dan keluarganya sudah meminta kepada bidan untuk dirujuk ke RSU. Namun ditahan-tahan hingga pukul 21.00 WIB. Itu pun setelah pasien mengalami pendarahan.
Lantas, sambung Eftiando, dr Tonny bertanya kepada bidan yang ikut ke RSU mengapa bisa terjadi seperti itu. Tetapi saat itu, bidan hanya terdiam.
Diakui Efriandi, selama masa kehamilan istrinya rutin check up ke Puskesmas Limbong. Juga kepada dr Tonny. Sesuai hasil pemeriksaan, kandungan sang istri dinyatakan bagus dan sehat.
Terpisah, Bidan Sariaty Sitinjak yang dihubungi mengaku menangani Safrita Sinaga.
Menurutnya, pasien datang sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu pasien masih ‘bukaan1-2’.
Lalu, mengapa menahan pasien yang minta dirujuk ke RS? Kata Sariaty, saat itu tidak indikasi yang tepat untuk merujuk pasien ke RS.
“Saya kan bekerja sesuai prosedur,” tukasnya.
Diterangkan Sariaty, sesuai diagnosa, pasien mengalami pendarahan aktif karena hamil anak pertama. Ia juga membantah ada luka di jalur rahim pasien.
“Saya tidak berbohong. (Jantung bayi) masih berdenyut. Kadang-kadang pemeriksaan dokter dengan kita berbeda,” terangnya, seraya menambahkan pasien hanya satu kali minta dirujuk ke RS
Sedangkan Kepala Puskesmas Limbong drg Rawati Simarmata, mengaku saat itu ia tidak berada di Puskesmas. Namun ia mengklaim saat itu penanganan bidan terhadap pasien sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Kita bilang itu kehendak Tuhan. Sudah tiga orang bidan senior menangani saat itu,” pungkasnya. (*)




Discussion about this post