Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU) menegaskan komitmennya dalam mendukung program literasi digital yang diinisiasi oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Dukungan tersebut disampaikan sebagai respons atas meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi di ruang digital yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Ketua Umum PK IMM FISIP UMSU, Habib Kurniawan Syaputra, menyampaikan bahwa literasi digital menjadi kebutuhan mendesak di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Menurutnya, derasnya arus informasi yang beredar, khususnya di media sosial, menuntut masyarakat untuk tidak hanya menjadi pengguna aktif, tetapi juga pengguna yang cerdas dan kritis.
“Di era digital saat ini, masyarakat tidak hanya dituntut untuk mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi. Karena itu, kami mendukung penuh program literasi digital yang digagas Ibu Menteri Meutya Hafid sebagai upaya nyata dalam memerangi hoaks,” ujar Habib dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, literasi digital memiliki cakupan yang luas, tidak hanya terbatas pada kemampuan teknis penggunaan perangkat atau aplikasi digital, melainkan juga menyangkut aspek etika, tanggung jawab, serta kesadaran dalam bermedia. Hal ini penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
Habib menilai, fenomena penyebaran hoaks saat ini telah mencapai tahap yang memprihatinkan. Informasi yang tidak terverifikasi dengan mudah menyebar luas dan kerap kali dipercaya oleh masyarakat tanpa proses klarifikasi. Kondisi ini, lanjutnya, dapat memicu berbagai dampak negatif, mulai dari perpecahan sosial hingga terganggunya stabilitas demokrasi.
“Hoaks bukan sekadar informasi yang salah, tetapi bisa menjadi pemicu konflik sosial, memperkeruh suasana, bahkan merusak kepercayaan publik terhadap institusi maupun sesama masyarakat. Jika tidak ditangani dengan serius, hal ini bisa berdampak panjang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.
Lebih lanjut, Habib menekankan bahwa penguatan literasi digital tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai elemen, seperti institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, komunitas digital, hingga media massa.
“Melawan hoaks tidak bisa dilakukan sendiri. Ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah sudah memulai dengan program yang baik, dan kami sebagai organisasi mahasiswa siap mendukung serta terlibat aktif dalam menyukseskan program tersebut,” katanya.
IMM FISIP UMSU, lanjut Habib, melihat bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam upaya menciptakan ruang digital yang sehat. Sebagai kelompok yang paling aktif menggunakan teknologi dan media sosial, generasi muda dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam memerangi hoaks.
Dalam konteks tersebut, IMM FISIP UMSU menyatakan kesiapan untuk berperan aktif melalui berbagai kegiatan konkret, seperti edukasi literasi digital di lingkungan kampus, sosialisasi kepada masyarakat, hingga kampanye anti-hoaks di berbagai platform media sosial.
“Kami akan mengoptimalkan peran kader IMM untuk turun langsung ke masyarakat, memberikan pemahaman tentang pentingnya verifikasi informasi, serta mengedukasi publik agar lebih bijak dalam bermedia sosial,” ujarnya.
Selain itu, IMM FISIP UMSU juga mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital yang dinilai konsisten dalam menghadirkan program-program edukatif berbasis literasi digital. Program tersebut dinilai tepat sasaran karena menyasar generasi muda sebagai pengguna utama ruang digital.
Menurut Habib, pendekatan edukatif yang dilakukan pemerintah merupakan langkah strategis dalam jangka panjang. Dengan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan dapat tercipta ekosistem digital yang lebih sehat, aman, dan produktif.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi itupun berharap agar program literasi digital dapat terus diperluas jangkauannya hingga ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk di daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap informasi yang berkualitas.
“Literasi digital harus menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya sekali atau dua kali kegiatan, tetapi harus terus dilakukan secara masif dan konsisten agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” tambahnya.
Habib kembali menegaskan komitmen IMM FISIP UMSU untuk menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan era digital. Ia optimistis, dengan adanya kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, upaya memerangi hoaks dapat berjalan lebih efektif.
“IMM FISIP UMSU siap menjadi garda terdepan dalam gerakan literasi digital. Kami percaya, dengan sinergi yang baik, kita bisa menciptakan ruang digital yang tidak hanya bebas dari hoaks, tetapi juga mampu memberikan manfaat positif bagi seluruh masyarakat,” tutup Habib.(san)



