Peristiwa kebakaran hebat yang melanda pabrik pengolahan minyak sawit PT Agro Jaya Perdana pada Sabtu malam (25/04/2026) terus menyisakan luka, baik secara fisik maupun psikologis bagi para pekerja. Hingga kini, salah satu korban masih menjalani perawatan intensif, sementara sorotan tajam mulai mengarah pada dugaan kelalaian perusahaan dalam menjamin keselamatan kerja.
Salah satu korban yang telah ditemui awak media adalah RM (26), karyawan yang mengalami luka bakar serius di bagian siku tangan kanan. Luka yang cukup dalam dan mengelupas membuat tim medis di Rumah Sakit Eshmun Marelan harus melakukan tindakan operasi.
Seorang anggota keluarga korban, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan kondisi RM sebelum menjalani operasi.
“Luka di tangannya cukup parah, sampai harus dioperasi. Kami berharap dia bisa pulih dan tangannya bisa digunakan normal lagi,” ujar salah satu rekan korban saat ditemui di rumah sakit, Senin (27/04/2026).
RM diketahui dilarikan ke rumah sakit oleh rekan kerjanya menggunakan sepeda motor sesaat setelah kejadian, di tengah situasi panik dan minimnya penanganan darurat di lokasi.
Di tengah kobaran api dan asap tebal yang menyelimuti gedung pabrik, RM mengungkap situasi mencekam yang terjadi saat kebakaran berlangsung. Ia menyebutkan bahwa beberapa pekerja terjebak di lantai atas tanpa jalur evakuasi yang memadai.
“Api cepat sekali membesar, asap hitam tebal. Orang-orang panik karena tidak tahu harus keluar lewat mana. Saya lihat ada yang lompat dari lantai empat,” kata RM.
Kesaksian tersebut memperkuat dugaan bahwa sistem keselamatan di dalam pabrik tidak berjalan optimal. Hingga saat ini, identitas serta kondisi pekerja yang dilaporkan melompat dari lantai 4 masih belum dipastikan. Pihak berwenang disebut masih melakukan pendataan dan verifikasi di lapangan.
Di tengah kondisi korban yang masih berjuang pulih, sikap manajemen PT Agro Jaya Perdana justru menuai kritik. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terkait tanggung jawab perusahaan terhadap korban, baik dalam bentuk santunan, biaya pengobatan, maupun evaluasi keselamatan kerja.
Seorang rekan kerja korban menyayangkan hal tersebut.
“Setelah kejadian, kami seperti dibiarkan. Tidak ada penjelasan jelas dari pihak perusahaan. Padahal ini menyangkut nyawa pekerja,” ungkapnya.
Ketiadaan jalur evakuasi yang memadai, lambannya penanganan darurat, serta belum adanya kejelasan kompensasi memicu dugaan bahwa perusahaan lalai dalam memenuhi standar keselamatan kerja.
Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengungkap penyebab pasti kebakaran. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pekerja yang berada di lokasi saat kejadian.
Kasus ini pun menjadi perhatian serius, mengingat sektor industri pengolahan memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja, terutama kebakaran.
Insiden ini kembali membuka luka lama terkait lemahnya penerapan standar keselamatan kerja di sejumlah industri. Berbagai pihak mendesak adanya evaluasi menyeluruh, termasuk audit sistem proteksi kebakaran dan kesiapan evakuasi darurat.
Hingga kini, kondisi korban lain termasuk yang dilaporkan melompat dari gedung masih belum mendapatkan kepastian. Publik pun menunggu langkah konkret dari PT Agro Jaya Perdana untuk bertanggung jawab atas insiden yang telah menimbulkan korban tersebut.



