Berita duka tentang kematian Lettu Inf Erizal Zuhri Sidabutar, anggota pasukan Kopassus TNI AD yang gugur dalam kontak tembak dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Selasa (17/12/2019) pukul 15.30 WIT di sekitar Kampung Kolapa dan Kampung Wabui, Kabupaten Intan Jaya, Papua menyisakan duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Ia gugur bersama seorang prajurit TNI lainnya, Serda Rizky.
Erizal Zuhri yang punya panggilan sayang ” Andi Lau” dari sang ibu, itu merupakan anak kedua dari enam bersaudara yang terlahir dari pasangan Aiptu Rukur Sidabutar dan ibu Elizabeth Christina Siahaan.
Dalam salah satu postingannya di media sosial, Erizal Zuhri Sidabutar pernah menulikan bahwa ia harus kembali ke kampung halaman.
“Sumatera Utara …. Km?
Kemana pun tujuan berlayar tetap ingat kembali ke kampung halaman..” tulisnya.

Lettu inf Erizal Zuhry Sidabutar yang dihubungi Newscorner.id pada 21 July 2019 silam menyampaikan perjuangannya masuk Akademi Militer dan bagaimana support dan dukungan orangtuanya.
Dididik dengan pola displin serta kerja keras dari masa kanak-kanak membuat ia dan saudaranya memiliki semangat baja.
“Bapak itu mendidik dengan keras, ia sangat disiplin dan pekerja keras. Saya ingat saya ingat, dari kecil kami dibuatkan jadwal. Mulai pagi bangun tidur sampi tidur malam ada jadwal masing-masing,” kisah Erizal.
Namun ia pun tak menampik bahwa peranan ibunya sangatlah besar. mengingat sang ayah yang banyak habiskan waktu menjalankan tugas sebagai Anggota Polri dan mencari tambahan beternak ikan.
Di keluarga mereka diterapkan sistem “Reward and Punishman”.
“Kalau kami mau minta sesuatu itu tidak gampang, kalau kami ada prestasi dikasih hadiah, trus kalau salah ada sanksi yang diberikan,”
Dalam meniti karirnya di dunia militer, Erizal telah melalui beberapa tahapan yang bahkan hampir membuatnya putus asa.
Dikisahkannya, pada Tahun 2008 ia lulus SMA dan mencoba untuk ikut test Akademi Militer di tahun 2010, namun ia gagal di tingkat pantohir pusat.
Gagal di sana ia dapat rekomendasi prioaritas untuk masuk Sekolah Calon Bintara (Secaba). Kesempatan itu pun ia ambil. Namun ia kembali gagal di tingkat akhir.
“Gagal masuk akmil saya dapat prioritas Bintara. Saya ambillah, tapi saat itu di pantohir pusat kesehatan saya dinyatakan bermasalah. Itu udah tinggal sidang bang. Saat itu lah saya merasa sangat hancur dan tak punya harapan. Down dan nyaris putus asa,” kisah Erizal.
Ia pun kembali ke kampung halamannya di Dairi dan berkebun membantu orang tua. Namun ia tak sendiri, ada orangtuanya yang memberi semangat dan motivasi. Ia pun kembali mencoba test Akmil di Tahun 2011.
“Orang tua menasehati dan memberikan motivasi kepada saya. Saya pun mencoba untuk ikut test di Tahun 2011 dan akhirnya diterima,”tuturya.
Ia pun menjalani pendidikan di Akademi Militer. Sementara itu adiknya pun termotivasi untuk menikuti jejak sang abang.
Selain dirinya dua orang adiknya juga lulusan akademi militer. Adiknya Letda Inf Prawira Guntara Sidabutar STr.Han lulusan Akmil 2013- 2017 kini ditugaskan di Kostrad 509 Jember dan Letda Mar Rizky Akbar Sidabutar STr.Han AAL 2015-2019 baru dilantik 16 Juli 2019 kemarin.
Tahun berikutnya adiknya mengikuti test masuk Akademi Militer, namun gagal. Ia pun memotivasi sang adik untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal pengetahuan dan kemampuan fisik.
“Saya motivasi adik dan bilang kalau kamu mau lulus harus dari diri sendiri. Berusaha melewati nilai standard dan banyak berdoa,” terangnya.
Di tahun berikutnya sang adik mencoba lagi dan diterima pada tahun 2013. Setelah lulus ditugaskan di Kostrad.
Erizal pun berpesan kepada kaula muda agar tetap optimis.
“Banyak orang ketika ingin mendaftar Akmil itu mindsetnya bahwa Akmil itu jatahnya anak Jenderal dan orang berduit. Tapi itu tidak benar, kami sudah membuktikannya. Kami dari kampung, bukan anak jenderal dan bukan orang berada. Saat saya lulus ada anak jenderal yang tidak lulus,” bebernya.
Kini salah seorang putra terbaik bangsa itu telah pergi menghadap sang khalik, Selamat jalan kawan! (Rivay Bakkara)




Discussion about this post